SEJARAH PEMIKIRAN KARL MARX
SOSIALISME MARX ( MARXISME )
Diantara
sekian banyak pakar sosialis, pandangan Karl Heindrich Marx ( 1818-1888 )
dianggap paling berpengaruh. Dari segi teoretis, banyak pakar dan pemikiran
ekonomi yang mengakui bahwa argumentasi Marx sangat dalam dan luas. Teori-
teorinya tidak hanya didasarkan atas pandangan ekonomi saja, tetapi juga
melibatkan moral, etika, social politik, sejarah falsafah, dan sebagainya.
1.
Kecaman Marx terhadap Sistem
Kapitalis
Karl Marx
sangat benci dengan sistem perekonomian liberal yang digagas oleh Adam Smith
dan kawan- kawan. Untuk menunjukkan kebenciannya, Marx menggunakan berbagai
argument untuk “ membuktikan “ bahwa sistem liberal atau kapitalis itu buruk.
Argument yang disusun Marx dapat dilihat dari berbagai segi, baik dari sisi
moral, sosiologi maupun ekonomi.
Dari segi
moral Marx melihat bahwa sistem kapitalis mewarisi ketidakadilan dari dalam.
Ketidakadilan ini akhrnya membawa masyarakat kapitalis kearah kondisi ekonomi
dan social yang tidak bias dipertahankan. Sistem upah
besi yaitu kaum buruh dalam sistem perekonomian liberal tidak akan pernah mampu
mengangkat derajatnya lebih tinggi karena pasar bebas telah mentakdirkannya
demikian. Marx menganjurkan agar sistem liberal yang menyebabkan kaum buruh
menderita tersebut harus diperbaiki atau diganti dengan sistem sosialis yang
lebih berpihak pada golongan buruh.
Alasan
mengapa sistem perekonomian liberal harus diganti adalah karena sistem liberal
cenderung menciptakan masyarakat berkelas kelas yaitu kelas kapitalis yang kaya
raya dan kelas buruh. Marx tidak menginginkan bentuk masyarakat berkelas kelas
seperti ini dan obat satu satunya yang dapat dilakukan dalam usaha menciptakan
masyarakat tanpa kelas dengan memperjuangkan sistem sosialis/komunis.
2.
Teori Pertentangan Kelas
Menurut Karl
Marx dalam komoditas dan kelas dapat dibagi menjadi dua kelas, yaitu:
a. Kaum kapitalis (borjuis) yang
memiliki alat-alat produksi.
b. Kaum buruh (proletar) yang
tidak memiliki alat-alat produksi, ruang kerja, maupun bahan-bahan produksi.
Menurut
pengamatan Marx, diseluruh dunia, sepanjang sejarah, kelas yang lebih bawah
selalu berusaha untuk membebaskan dan meningkatkan status kesejahteraan mereka.
Marx meramalkan bahwa kaum proletar yang terdiri dari kaum buruh akan bangkit
melawan kesewenang- wenangan kaum pemilik modal dan akan menghancurkan kelas
yang berkuasa. Teori yang digunakan untuk menjelaskan penindasan tersebut
adalah teori nilai lebih ( theory of surplus value ), yang berasal dari
kaum klasik sendiri.
3.
Teori “ Surplus Value “ dan
Penindasan Buruh
Menurut
pandangan kaum klasik nilai suatu barang harus sama dengan biaya - biaya untuk
menghasilkan barang tersebut, yang didalamnya sudah termasuk ongkos tenaga
kerja berupa upah alami. Upah alami yang diterima oleh para buruh hanya cukup
sekedar penyambung hidup secara subsisten yaitu untuk memenuhi kebutuhn yang
pokok saja. Padahal nilai dari hasil kerja para buruh jauh lebih besar dari
jumlah yang diterima mereka sebagai upah alami. Kelebihan nilai
produktivitas kerja buruh atas upah alami inilah yang disebut Marx sebagai
nilai lebih yang dinikmati oleh para pemilik modal.
Beberapa program yang dianjurkan
Marx untuk dilakukan setelah revolusi berhasil antar lain :
1. Penghapusan hak milik atas tanah
dan menggunakan semua bentuk sewa tanah untuk tujuan tujuan umum.
2. Program pajak pendapatan progresif.
3. Penghapusan semua bentuk hak pewarisan.
4. Pemusatan kredit di tangan negara.
5. Pemusatan alat alat komunikasi dan transportasi di
tangan negara.
6. Pengembangan pabrik pabrik dan alat alat produksi
milik negara.
Perbedaan fase sosialisme dan komunisme menurut Marx
yaitu:
1. Produktivitas.
2. Hakikat manusia sebagai produsen.
3. Pembagian pendapatan.
Teori Karl
Marx yang terkenal dengan teori nilai lebih (suplus value theory) mengatakan
bahwa laba pengusaha muncul karena adanya perbedaan antara upah yang seharusnya
dan upah yang dibayarkan kepada buruh, dimana upah yang dibayarkan lebih rendah
dari upah yang seharusnya. Selisih ini disebut dengan nilai lebih hasil kerja
buruh, yang kemudian diberikan kepada wirausahawan. Misalnya tenaga kerja yang
memiliki nilai produktivitas Rp10.000,00 hanya diberikan upah Rp7.000,00.
Sedangkan selisih Rp3.000,00 merupakan nilai lebih yang dijadikan laba
wirausahawan. Ketidakadilan ini akhirnya akan membawa masyarakat kapitalis kea
rah kondisi ekonomi dan sosial yang tidak bisa dipertahankan.
4.
Dialektika Materialisme
Historis
Teori Marx
tentang kejatuhan kapitalisme untuk kemudian digantikan dengan sosialisme/
komunisme didasarkan pada dialektika meterialisme sejarah. Konsep ini
dipelajari Marx dan filsuf Jerman Georg Wilhem Hegel dan Ludwig Feuerbach.
Dengan dialektika, ada tesis, antitesis, dan sintesis, yang saling kait-
mengait antara satu sama lainnya. Dengan materialisme historis, Marx percaya
sejarah manusia ditentukan oleh kebutuhan ekonominya yang paling dasar, yaitu
kebutuhan akan materi. Dengan demikian, ia menyimpulkan seluruh tidak tanduk
manusia didorong oleh motif ekonomi, yaitu pemuasan materi. Oleh Marx, ide atau
gagasan tentang agama, etika, seni, social, dan politik hanya ikut mewarnai.
Namun, yang paling menentukan adalah motif ekonomi.
5.
Fase- fase Perkembangan
Masyarakat
Menurut
Marx, semua kelompok masyarakat akan mengalami fase- fase sebagai berikut.
1. Komunisme
primitive ( suku ),
2.
Perbudakan,
3.
Feodalisme,
4.
Kapitalisme,
5.
Sosialisme,
6.
Komunisme.
Menurut
Marx, perubahan dari suatu fase ke fase berikutnya yang lebih maju terjadi
karena kurang atau tidak seimbangnya kemajuan dalam teknologi dengan kemajuan
dalam institusi. Teknologi merupakan suatu tenaga dinamis yang sangat penting
dalam sejarah umat manusia, yang secara pasti dan tidak bisa dielakkan, selalu
mengalami perubahan dari fase yang lebih rendah ke fase yang lebih tinggi.
Untuk
melaksanakan pembangunan yang sesungguhnya, yang bisa dinikmati seluruh lapisan
masyarakat, perlu dirombak struktur masyarakat itu sendiri. Beberapa program
yang dianjurkan Marx untuk dilakukan setelah revolusi berhasil antara lain:
1. Penghapusan hak milik atas
tanah dan menggunakan semua bentuk sewa tanah untuk tujuan- tujuan umum;
2. Program pajak pendapatan
progresif atau gradual;
3. Penghapusan semua bentuk
hak pewarisan;
4. Pemusatan kredit di tangan
Negara;
5. Pemusatan alat- alat
komunikasi dan transportasi di tangan Negara;
6. Pengembangan pabrik- pabrik
dan alat- alat produksi milik Negara.
6.
Perbedaan Sosialisme dan
Komunisme Menurut Marx
Marx
membedakan fase sosialisme dengan komunisme penuh atau lengkap. Perbedaan di
antara kedua fase tersebut dapat dilihat dari:
1. Produktivitas;
2. Hakikat manusia sebagai
produsen;
3. Pembagian pendapatan.
Dalam fase
sosialisme, produktivitas masih rendah dan kebutuhan materi belum terpenuhi
secara cukup. Sementara itu, dalam fase komunisme penuh produktivitas sudah
tinggi sehingga semua kebutuhan materi sudah diproduksi secara cukup. Kesimpulannya,
masalah- masalah seperti kelangkaan ( scarcity ) dan insentif pribadi
dengan sendirinya akan hilang jika masyarakat sudah sampai pada tahap komunisme
penuh. Bahkan, uang tidak perlu lagi digunakan. Dalam tahap komunisme penuh
tidak ada lagi soal kelangkaan, juga tidak ada lagi kelas- kelas masyarakat,
pengisapan dari suatu kelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat lainnya.
Bahkan, Negara dengan sendirinya juga hilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar