Senin, 14 September 2015

SEJARAH PEMIKIRAN KARL MARX

SEJARAH PEMIKIRAN KARL MARX
SOSIALISME MARX ( MARXISME )
Diantara sekian banyak pakar sosialis, pandangan Karl Heindrich Marx ( 1818-1888 ) dianggap paling berpengaruh. Dari segi teoretis, banyak pakar dan pemikiran ekonomi yang mengakui bahwa argumentasi Marx sangat dalam dan luas. Teori- teorinya tidak hanya didasarkan atas pandangan ekonomi saja, tetapi juga melibatkan moral, etika, social politik, sejarah falsafah, dan sebagainya.
1.      Kecaman Marx terhadap Sistem Kapitalis
Karl Marx sangat benci dengan sistem perekonomian liberal yang digagas oleh Adam Smith dan kawan- kawan. Untuk menunjukkan kebenciannya, Marx menggunakan berbagai argument untuk “ membuktikan “ bahwa sistem liberal atau kapitalis itu buruk. Argument yang disusun Marx dapat dilihat dari berbagai segi, baik dari sisi moral, sosiologi maupun ekonomi.
Dari segi moral Marx melihat bahwa sistem kapitalis mewarisi ketidakadilan dari dalam. Ketidakadilan ini akhrnya membawa masyarakat kapitalis kearah kondisi ekonomi dan social yang tidak bias dipertahankan. Sistem upah besi yaitu kaum buruh dalam sistem perekonomian liberal tidak akan pernah mampu mengangkat derajatnya lebih tinggi karena pasar bebas telah mentakdirkannya demikian. Marx menganjurkan agar sistem liberal yang menyebabkan kaum buruh menderita tersebut harus diperbaiki atau diganti dengan sistem sosialis yang lebih berpihak pada golongan buruh.
Alasan mengapa sistem perekonomian liberal harus diganti adalah karena sistem liberal cenderung menciptakan masyarakat berkelas kelas yaitu kelas kapitalis yang kaya raya dan kelas buruh. Marx tidak menginginkan bentuk masyarakat berkelas kelas seperti ini dan obat satu satunya yang dapat dilakukan dalam usaha menciptakan masyarakat tanpa kelas dengan memperjuangkan sistem sosialis/komunis.
2.      Teori Pertentangan Kelas
Menurut Karl Marx dalam komoditas dan kelas dapat dibagi menjadi dua kelas, yaitu:
a.    Kaum kapitalis (borjuis) yang memiliki alat-alat produksi.
b.   Kaum buruh (proletar) yang tidak memiliki alat-alat produksi, ruang kerja, maupun bahan-bahan produksi.
Menurut pengamatan Marx, diseluruh dunia, sepanjang sejarah, kelas yang lebih bawah selalu berusaha untuk membebaskan dan meningkatkan status kesejahteraan mereka. Marx meramalkan bahwa kaum proletar yang terdiri dari kaum buruh akan bangkit melawan kesewenang- wenangan kaum pemilik modal dan akan menghancurkan kelas yang berkuasa. Teori yang digunakan untuk menjelaskan penindasan tersebut adalah teori nilai lebih ( theory of surplus value ), yang berasal dari kaum klasik sendiri.
3.      Teori “ Surplus Value “ dan Penindasan Buruh
Menurut pandangan kaum klasik nilai suatu barang harus sama dengan biaya - biaya untuk menghasilkan barang tersebut, yang didalamnya sudah termasuk ongkos tenaga kerja berupa upah alami. Upah alami yang diterima oleh para buruh hanya cukup sekedar penyambung hidup secara subsisten yaitu untuk memenuhi kebutuhn yang pokok saja. Padahal nilai dari hasil kerja para buruh jauh lebih besar dari jumlah yang diterima mereka sebagai upah alami. Kelebihan nilai produktivitas kerja buruh atas upah alami inilah yang disebut Marx sebagai nilai lebih yang dinikmati oleh para pemilik modal.
Beberapa program yang dianjurkan Marx untuk dilakukan setelah revolusi berhasil antar lain :
1. Penghapusan hak milik atas tanah dan menggunakan semua bentuk sewa tanah untuk tujuan tujuan umum.
2. Program pajak pendapatan progresif.
3. Penghapusan semua bentuk hak pewarisan.
4. Pemusatan kredit di tangan negara.
5. Pemusatan alat alat komunikasi dan transportasi di tangan negara.
6. Pengembangan pabrik pabrik dan alat alat produksi milik negara.

Perbedaan fase sosialisme dan komunisme menurut Marx yaitu:
1. Produktivitas.
2. Hakikat manusia sebagai produsen.
3. Pembagian pendapatan.
Teori Karl Marx yang terkenal dengan teori nilai lebih (suplus value theory) mengatakan bahwa laba pengusaha muncul karena adanya perbedaan antara upah yang seharusnya dan upah yang dibayarkan kepada buruh, dimana upah yang dibayarkan lebih rendah dari upah yang seharusnya. Selisih ini disebut dengan nilai lebih hasil kerja buruh, yang kemudian diberikan kepada wirausahawan. Misalnya tenaga kerja yang memiliki nilai produktivitas Rp10.000,00 hanya diberikan upah Rp7.000,00. Sedangkan selisih Rp3.000,00 merupakan nilai lebih yang dijadikan laba wirausahawan. Ketidakadilan ini akhirnya akan membawa masyarakat kapitalis kea rah kondisi ekonomi dan sosial yang tidak bisa dipertahankan.
4.      Dialektika Materialisme Historis
Teori Marx tentang kejatuhan kapitalisme untuk kemudian digantikan dengan sosialisme/ komunisme didasarkan pada dialektika meterialisme sejarah. Konsep ini dipelajari Marx dan filsuf Jerman Georg Wilhem Hegel dan Ludwig Feuerbach. Dengan dialektika, ada tesis, antitesis, dan sintesis, yang saling kait- mengait antara satu sama lainnya. Dengan materialisme historis, Marx percaya sejarah manusia ditentukan oleh kebutuhan ekonominya yang paling dasar, yaitu kebutuhan akan materi. Dengan demikian, ia menyimpulkan seluruh tidak tanduk manusia didorong oleh motif ekonomi, yaitu pemuasan materi. Oleh Marx, ide atau gagasan tentang agama, etika, seni, social, dan politik hanya ikut mewarnai. Namun, yang paling menentukan adalah motif ekonomi.
5.      Fase- fase Perkembangan Masyarakat
Menurut Marx, semua kelompok masyarakat akan mengalami fase- fase sebagai berikut.
1. Komunisme primitive ( suku ),
2. Perbudakan,
3. Feodalisme,
4. Kapitalisme,
5. Sosialisme,
6. Komunisme.
Menurut Marx, perubahan dari suatu fase ke fase berikutnya yang lebih maju terjadi karena kurang atau tidak seimbangnya kemajuan dalam teknologi dengan kemajuan dalam institusi. Teknologi merupakan suatu tenaga dinamis yang sangat penting dalam sejarah umat manusia, yang secara pasti dan tidak bisa dielakkan, selalu mengalami perubahan dari fase yang lebih rendah ke fase yang lebih tinggi.
Untuk melaksanakan pembangunan yang sesungguhnya, yang bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat, perlu dirombak struktur masyarakat itu sendiri. Beberapa program yang dianjurkan Marx untuk dilakukan setelah revolusi berhasil antara lain:
1. Penghapusan hak milik atas tanah dan menggunakan semua bentuk sewa tanah untuk tujuan- tujuan umum;
2. Program pajak pendapatan progresif atau gradual;
3. Penghapusan semua bentuk hak pewarisan;
4. Pemusatan kredit di tangan Negara;
5. Pemusatan alat- alat komunikasi dan transportasi di tangan Negara;
6. Pengembangan pabrik- pabrik dan alat- alat produksi milik Negara.

6.      Perbedaan Sosialisme dan Komunisme Menurut Marx
Marx membedakan fase sosialisme dengan komunisme penuh atau lengkap. Perbedaan di antara kedua fase tersebut dapat dilihat dari:
1. Produktivitas;
2. Hakikat manusia sebagai produsen;
3. Pembagian pendapatan.
Dalam fase sosialisme, produktivitas masih rendah dan kebutuhan materi belum terpenuhi secara cukup. Sementara itu, dalam fase komunisme penuh produktivitas sudah tinggi sehingga semua kebutuhan materi sudah diproduksi secara cukup. Kesimpulannya, masalah- masalah seperti kelangkaan ( scarcity ) dan insentif pribadi dengan sendirinya akan hilang jika masyarakat sudah sampai pada tahap komunisme penuh. Bahkan, uang tidak perlu lagi digunakan. Dalam tahap komunisme penuh tidak ada lagi soal kelangkaan, juga tidak ada lagi kelas- kelas masyarakat, pengisapan dari suatu kelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat lainnya. Bahkan, Negara dengan sendirinya juga hilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar